Sukses=Kerja Keras+Jujur+Cerdas
August 11th, 2007 by ekoheriSemua orang pasti sangat mendambakan kata-kata "SUKSES". Sukses itu apa sih? sukses itu sebenarnya adalah tingkat keberhasilan seseorang atas usahanya untuk mencapai hal yang lebih baik. Dalam dunia kerjapun kata sukses ini pastilah sangat didambakan oleh semua orang begitu juga dengan aku. Tingkat kesuksesan inipun barometernya belum tentu sama antara satu orang dengan lainnya, bisa aja tingkat kesuksesan itu diukur dari jumlah salary yang diterima, jabatan, fasilitas, kenyaman kerja dan lain sebagainya.
Selama malang melintang di dunia kerja ini, banyak sekali tipe-tipe para pekerja yang aku temui disetiap harinya mulai dari tipe pekerja keras, ulet, jujur bahkan yang tipe penjilat dan suka menghasut juga ada lho :). Tapi dari sekian banyak tipe itu, sebenarnya keinginan mereka hanya satu yaitu bagaimana mencapai kata sukses itu tadi.
Bagaimana kiat mencapai sukses dalam dunia kerja? berikut ini ada sebuah cerita berdasarkan pengamatanku terhadap tipe-tipe pekerja yang pernah aku temui.
PT. XYZ adalah sebuah perusahaan yang sedang berkembang di salah satu kota metropolitan. Core Bussines perusahaan ini adalah dibidang perdagangan otomatif. Seiring perkembangan kebutuhan informasi, maka perusahaan ini mengangkat dua orang programmer sebut saja namanya Amir dan Umar.
Si Amir dan si Umar ini adalah dua orang pekerja keras, tidak jarang keduanya lembur sampai malam untuk membangun sistem informasi yang dibutuhkan perusahaan tersebut. Merekapun bisa bekerja dengan kompak dan saling bahu membahu menyelesaikan project demi project yang ditugaskan kepada mereka. Bahkan saking kompaknya pas mereka istirahat makan siang aja selalu pergi makan berdua.
Selain pekerja keras, dua orang ini juga terkenal pekerja yang jujur. Tidak pernah dalam kamus kehidupannya mereka berkata bohong ketika ada pertanyaan dari atasan maupun teman-teman sekantornya. Pada saat mengikuti meeting bersama pun mereka berdua selalu melaporkan progress kerjanya apa adanya tidak ditambahi dan dikurangi.
Demikian dikarenakan kerja keras, kekompakan dan kejujuran mereka berdua, akhirnya project-project yang harus mereka kerjakan selesai tepat waktu sesuai dengan deadline yang ditugaskan oleh atasannya.
Pada suatu hari, mereka berdua dipanggil oleh direktur perusahaan itu. Direktur tersebut adalah atasannya mereka berdua secara langsung, jadi struktur organisasi departemen IT tersebut langsung dibawah pengawasan direktur. Pada saat itu direktur bermaksud merubah struktur organisasi yang sudah jalan selama ini khusus untuk departemen IT, direktur tersebut ingin mengangkat salah satu dari mereka untuk dijadikan manager di departemen IT. Sebagai bahan penilaian, direktur meminta waktu satu bulan untuk mereview cara kerja dan kepemimpinan kedua orang tersebut. Beliau pun ngasih project tambahan kepada kedua orang ini, siapa yang paling cepat menyelesaikannya itulah yang akan diangkat menjadi manager IT.
Akhirnya kedua orang inipun bersaing secara sehat berlomba menyelesaikan project, merekapun berlomba-lomba berinteraksi dengan staff-staff yang lain menggali semua informasi yang dibutuhkan dalam project tersebut. Setelah berbagai macam alur sistem informasi mereka kuasai, giliran keduanya berlomba membuat program. Program inipun mereka bagi modul by modul sesuai dengan apa yang telah mereka sepakati bersama. Berawal dari cara komunikasi dengan sesama staff, cara mereka menyelesaikan sebuah case sampai cara mereka membuat program itulah perbedaan kemampuan mereka berdua bisa diukur.
si Amir adalah pekerja keras dan jujur, pola pikir si Amir ini agak cenderung lebih ribet dibandingan si Umar. Jadi ketika berkomunikasi dengan staff-staff yang lain, si Amir ini cenderung berbelit-belit, beda dengan si Umar yang cenderung bicara lugas, sederhana dan mengena ketika dimintai solusi atas sebuah case yang dihadapi staff-staff tersebut. Bahkan ketika membuat programpun si Amar ini cenderung ingin mempelajari teknologinya terlebih dahulu secara mendetail baru membikin programnya. Hal inilah yang membedakan cara kerja si Amir dan si Umar, kalo si Amir pingin membuat program mulai dari nol dan harus dari hasil pemikirannya sendiri, kalo si Umar hanya cukup mencari beberapa contoh program jadi yang ada di buku atau diinternet, lalu di-copy-paste dan dimodifikasi sedikit sesuai dengan kebutuhan program yang dia buat. Perbedaan cara kerja inilah yang mengakibatkan si Umar mampu menyelesaikan projectnya jauh lebih cepat dari pada si Amir. Singkat cerita, akhirnya bulan berikutnya sang Direktur mengangkat si Umar sebagai Manager IT baru dan menjadi atasannya si Amir. Saat itulah si Umar merasa bahwa usahanya selama ini mencapai sukses.
Sebuah kesuksesan itu belumlah cukup hanya bermodalkan kerja keras, loyal dan jujur saja, akan tetapi kesuksesan itu juga harus disertai dengan cara kerja yang cerdas. Cerdas yang dimaksud disini adalah seberapa cepat seseorang itu mampu menguasai persoalan yang ada, serta bagaimana cara mengatasi persoalan tersebut dengan metode yang paling sederhana, cepat dan tepat. Kadang orang lain termasuk atasan kita tidak mau tau bagaimana proses yang kita lakukan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan, tapi mereka cenderung melihat yang penting kerjaan tersebut cepat selesai gak peduli cara bikinnya seperti apa. Cara kerja si Amir yang cenderung ingin membangun semuanya dari kemampuannya sendiri, mungkin ada bagusnya kalo diterapkan di lingkungan pendidikan, tapi di dunia kerja profesional cara kerja seperti ini pastilah membutuhkan waktu yang relatif lebih lama karena si Amir pasti harus lebih banyak bereksperimen, padahal eksperimen-eksperimen itu sama sekali tidak dibutuhkan oleh orang lain, mereka butuh hasil kerja yang nyata bukan eksperimen. Hal ini tentu saja berbeda dengan si Umar, si Umar ini adalah pekerja yang keras, jujur, loyal dan memiliki sense kecerdasan dalam mengerjakan sesuatu sehingga dia mampu menggapai kata sukses lebih cepat dibanding si Amir.
Dari cerita tersebut diatas, jika diambil hikmahnya bahwa sukses itu bisa diraih dengan kerja keras, jujur, loyal, cerdas dan kreatif, tentu saja tidak lupa disertai dengan do’a sesuai dengan agama dan kepercayaan kita masing-masing.
Cikarang, 11 Agustus 2007
Eko Heri Susanto